Pages

Senin, 10 Oktober 2016

Di Balik Keputusan untuk pindah




Tulisan ini sekadar uraian lebih panjang tentang kisahku pada tulisan sebelumnya mengenai kepindahanku dari kampus sebelumnya ke kampus yang sekarang.

Semua berawal saat aku diterima masuk ke salah satu perguruan tinggi favorit di daerah Jawa Barat 2014 silam. Saat itu aku senang bukan main, aku pun tak bisa berbohong tentang bagaimana perasaanku kala itu. Bagaimana tidak, sekolahku masih sekolah baru dan angkatanku adalah angkatan pertama. Aku dan kawan-kawan adalah lulusan pertama sekaligus yang akan menjadi gerbang awal untuk dijadikan track record bagi adik-adik angkatan nanti yang akan memasuki perguruan tinggi. Dan kelulusanku saat itu adalah awal yang baik bagi sekolah kami yang masih sangat muda. Aku adalah lulusan pertama yang diterima di kampus tersebut. Tentulah hal ini membuatku senang dan ada perasaan haru bercampur bangga saat itu.
Tak pikir macam-macam lagi, aku langsung memproses berkas untuk melakukan pendaftaran ulang disana. Hingga akhirnya, aku resmi menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di kampus itu. Masa-masa awal maba pun ku lewati, ya tentunya aku melewati masa-masa transisi nan galau di kala itu. Aku mengganggap itu sebagai hal yang wajar. Homesick, culture shock, proses adaptasi yang sulit, semua akan dialami oleh sebagian besar orang, apalagi anak-anak daerah. Semester awal di tahun pertama terlewati, sampai akhirnya memasuki semester-semester selanjutnya, aku merasa ada yang beda. Inilah yang menurutku menjadi awal mula konflik itu muncul.
Aku bukan lagi maba saat itu, sudah ada angkatan baru, angakatan 2015. Tapi, mengapa rasa ketidaknyamanan itu masih saja ada?  Mengapa sudah hampir setahun lebih aku tak kunjung cocok, tak mampu beradaptasi dengan baik? Kerjaku hanyalah berputar di siklus yang sama, kuliah-pulang-mengurung diri dalam kos, begitu-begitu saja. Saat di kampus, aku hanya berada di dua tempat, kelas atau musholla, selebihnya saat tidak ada urusan lagi, aku akan kembali ke kos. Begitupun saat di kos, aku hanya berkutat dengan laptop atau novel dalam kamar, hanya saat ingin ke toilet, makan dan sholat berjamaah saja baru aku keluar kamar. Jikalau seperti ini, kira-kira apakah aku nyaman? Tidak. Sungguh sangat tidak nyaman. Aku pun bukanlah orang yang senang mengurung diri di kamar. Jikalau bukan karena ketidakcocokan ku dengan lingkungan itu, aku tak akan menghabiskan waktuku dengan hanya berdiam diri dalam kos. Banyak kegiatan diluar sana yang bisa mengembangkan potensiku. Jangankan di kampus, bahkan teman sedaerah pun aku jarang bergabung, berkumpul bersama dengan mereka.
Menginjak tahun kedua, tepatnya di semester ketiga, aku sudah merasa gelisah. Segalanya serba runyam. Saat di kelas, seolah hanya ragaku yang duduk di hadapan dosen. Jiwaku melayang entah kemana, bingung mencari tempat yang membuatnya nyaman. Lebih parah lagi karena berdampak ke kondisi fisikku. Aku sempat berkonseling ke seorang dosen gara-gara merasa stress. Setiap kali ingin berangkat kemapus, dadaku langsung sesak. Detak jantungku bekerja lebih cepat, gugup segugup-gugupnya. Bahkan, kadang aku sampai ingin menangis karena akan berangkat ke kampus. Dan itu berlangsung selama kurang lebih satu semester. Dukungan dari sana-sini datang, tapi tetap tak mempan. Hatiku selalu menolak untuk tetap berdiam diri, berbohong pada banyak orang bahwa aku betah tinggal disana. Satu hal yang semakin membuatku tak karuan saat orang yang paling aku sayangi, paling aku cintai, yang selalu menjadi alasanku untuk bertahan, pergi dipanggil oleh Yang Mahakuasa, tepat di H+6 Hari Raya Idul Fitri 2015 lalu. Perginya Ibu membuatku semakin putus asa, tak ada lagi yang bisa membuatku bertahan di tempat itu. Sekat yang membatasi duniaku dengan dunia kampus semakin tebal, aku semakin menutup diri. Klimaksnya terjadi di bulan Februari lalu.
Memasuki semester 4, aku semakin gelisah, kalang kabut berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona yang membuatku tak nyaman. Kurang lebih setelah dua minggu kuliah awal perdana, aku menghilang dari aktifitas kampus. Tak ada kabar sebelumnya. Semua akun sosmed sempat dinonaktifkan, bahkan sampai ganti nomor untuk sementara. Semuanya ku lakukan demi menghindari pertanyaan kenapa, mengapa, kemana dan sederet pertanyaan lain yang tak ingin ku jawab. Juga sembari menenangkan diri. Aku tahu resiko yang akan ku dapati dengan keputusan ini. Akhirnya sempat dicari sama teman-teman kampus. Bahkan, pihak departemen program studi sempat menghubungi pihak sekolah demi mencari info tentang ku. Setelah beberapa lama menghilang, akhirnya aku mencoba untuk terbuka. Aku mengizinkan nomor baruku dibagikan ke pihak departemen program studi. Lalu, aku diajak bertemu dengan mereka. Percakapan berlangsung dan aku bersyukur mereka datang ternyata membawa kabar baik. Mereka mempersilakan keputusanku dan memahami kondisiku saat itu, hingga solusi yang muncul adalah aku mengambil cuti untuk semester 4 ini.
Mungkin hanya beberapa orang saja yang tau kabar bahwa aku cuti dari perkuliahan, selebihnya tidak. Mereka hanya tau bahwa kondisiku baik-baik saja disana, berkuliah sebagaimana mestinya. Hanya permohonan maaf saja yang bisa kuucap saat itu. Aku hanya tak ingin jadi masalah besar. Aku hanya ingin cukup diriku saja yang tahu. Mereka yang tahu pun hanyalah orang yang mau tidak mau harus ku beritahu demi kelanjutan keputusan dan rencanaku. Sebab, mereka yang tahu adalah orang yang kemudian membantuku mempersiapkan diri menuju tes perguruan tinggi.
Kekosongan waktu ku isi dengan belajar dan belajar. Aku tak ingin gagal setelah sebelumnya di tahun 2015, aku sempat mencoba tes masuk PTN namun gagal. Kali ini, di kesempatan terakhirku untuk ikut tes, aku berusaha semaksimal mungkin. Ingatan ku tentang pelajaran SMA mungkin tak sesegar mereka yang baru lulus SMA, tapi aku tak menyerah. Niatku untuk bisa pindah sudah terlalu besar. Aku ikut bimbingan belajar bersama anak SMA lainnya. Ikut program intensif. Sampai akhirnya, aku melewati tes tulis dengan hasil yang sungguh melegakan. Aku lulus di jurusan yang sejak SMA sudah menjadi salah satu favoritku, Psikologi. Kabar kelulusanku pun dengan cepat menyebar. Berharap kabar ini bisa menutup kabar-kabar sebelumnya yang ingin kuakhiri.
Aku berharap di dunia baruku ini, kelak bisa membantuku memulihkan kondisiku dari pengalaman sebelumnya. Yang lalu biarlah berlalu. Namun, sekelam-kelamnya pengalaman lalu, aku selalu mengambil pelajaran darinya. Usiaku bukan lagi usia remaja muda. Usia 20 tahun menurutku sudah berada di ambang kedewasaan. Bukan lagi usia kalangan remaja labil. Bukan lagi waktunya untuk bersantai ria, mondar-mandir jalan sana-sini, menghabiskan tenaga, waktu dan juga uang untuk hal-hal yang tidak penting. Di usia ini adalah waktu ku untuk lebih serius. Waktu 2 tahun sebelumnya yang telah hangus bukanlah waktu yang singkat. Dan aku harus mengejar ketertinggalanku dengan teman-teman seangkatan yang mungkin sudah mulai memasuki fase-fase sebelum menuju tahap akhir perkuliahan. Sementara aku, harus kembali memulai dari awal. Dari nol.
Bismillah, inilah keputusanku. So, the show must go on!

10 Oktober 2016
20.39 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

 

YURIZEN Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez