Tulisan ini sekadar uraian lebih panjang tentang
kisahku pada tulisan sebelumnya mengenai kepindahanku dari kampus sebelumnya ke
kampus yang sekarang.
Semua berawal saat aku diterima masuk ke salah satu
perguruan tinggi favorit di daerah Jawa Barat 2014 silam. Saat itu aku senang
bukan main, aku pun tak bisa berbohong tentang bagaimana perasaanku kala itu.
Bagaimana tidak, sekolahku masih sekolah baru dan angkatanku adalah angkatan
pertama. Aku dan kawan-kawan adalah lulusan pertama sekaligus yang akan menjadi
gerbang awal untuk dijadikan track record
bagi adik-adik angkatan nanti yang akan memasuki perguruan tinggi. Dan
kelulusanku saat itu adalah awal yang baik bagi sekolah kami yang masih sangat
muda. Aku adalah lulusan pertama yang diterima di kampus tersebut. Tentulah hal
ini membuatku senang dan ada perasaan haru bercampur bangga saat itu.
Tak pikir macam-macam lagi, aku langsung memproses
berkas untuk melakukan pendaftaran ulang disana. Hingga akhirnya, aku resmi
menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di kampus itu. Masa-masa awal maba
pun ku lewati, ya tentunya aku melewati masa-masa transisi nan galau di kala
itu. Aku mengganggap itu sebagai hal yang wajar. Homesick, culture shock,
proses adaptasi yang sulit, semua akan dialami oleh sebagian besar orang,
apalagi anak-anak daerah. Semester awal di tahun pertama terlewati, sampai
akhirnya memasuki semester-semester selanjutnya, aku merasa ada yang beda.
Inilah yang menurutku menjadi awal mula konflik itu muncul.
Aku bukan lagi maba saat itu, sudah ada angkatan
baru, angakatan 2015. Tapi, mengapa rasa ketidaknyamanan itu masih saja
ada? Mengapa sudah hampir setahun lebih
aku tak kunjung cocok, tak mampu beradaptasi dengan baik? Kerjaku hanyalah
berputar di siklus yang sama, kuliah-pulang-mengurung diri dalam kos,
begitu-begitu saja. Saat di kampus, aku hanya berada di dua tempat, kelas atau
musholla, selebihnya saat tidak ada urusan lagi, aku akan kembali ke kos.
Begitupun saat di kos, aku hanya berkutat dengan laptop atau novel dalam kamar,
hanya saat ingin ke toilet, makan dan sholat berjamaah saja baru aku keluar
kamar. Jikalau seperti ini, kira-kira apakah aku nyaman? Tidak. Sungguh sangat
tidak nyaman. Aku pun bukanlah orang yang senang mengurung diri di kamar.
Jikalau bukan karena ketidakcocokan ku dengan lingkungan itu, aku tak akan
menghabiskan waktuku dengan hanya berdiam diri dalam kos. Banyak kegiatan
diluar sana yang bisa mengembangkan potensiku. Jangankan di kampus, bahkan
teman sedaerah pun aku jarang bergabung, berkumpul bersama dengan mereka.
Menginjak tahun kedua, tepatnya di semester ketiga,
aku sudah merasa gelisah. Segalanya serba runyam. Saat di kelas, seolah hanya
ragaku yang duduk di hadapan dosen. Jiwaku melayang entah kemana, bingung
mencari tempat yang membuatnya nyaman. Lebih parah lagi karena berdampak ke
kondisi fisikku. Aku sempat berkonseling ke seorang dosen gara-gara merasa
stress. Setiap kali ingin berangkat kemapus, dadaku langsung sesak. Detak
jantungku bekerja lebih cepat, gugup segugup-gugupnya. Bahkan, kadang aku
sampai ingin menangis karena akan berangkat ke kampus. Dan itu berlangsung
selama kurang lebih satu semester. Dukungan dari sana-sini datang, tapi tetap
tak mempan. Hatiku selalu menolak untuk tetap berdiam diri, berbohong pada
banyak orang bahwa aku betah tinggal disana. Satu hal yang semakin membuatku
tak karuan saat orang yang paling aku sayangi, paling aku cintai, yang selalu
menjadi alasanku untuk bertahan, pergi dipanggil oleh Yang Mahakuasa, tepat di
H+6 Hari Raya Idul Fitri 2015 lalu. Perginya Ibu membuatku semakin putus asa,
tak ada lagi yang bisa membuatku bertahan di tempat itu. Sekat yang membatasi
duniaku dengan dunia kampus semakin tebal, aku semakin menutup diri. Klimaksnya
terjadi di bulan Februari lalu.
Memasuki semester 4, aku semakin gelisah, kalang
kabut berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona yang membuatku tak
nyaman. Kurang lebih setelah dua minggu kuliah awal perdana, aku menghilang
dari aktifitas kampus. Tak ada kabar sebelumnya. Semua akun sosmed sempat
dinonaktifkan, bahkan sampai ganti nomor untuk sementara. Semuanya ku lakukan
demi menghindari pertanyaan kenapa, mengapa, kemana dan sederet pertanyaan lain
yang tak ingin ku jawab. Juga sembari menenangkan diri. Aku tahu resiko yang
akan ku dapati dengan keputusan ini. Akhirnya sempat dicari sama teman-teman
kampus. Bahkan, pihak departemen program studi sempat menghubungi pihak sekolah
demi mencari info tentang ku. Setelah beberapa lama menghilang, akhirnya aku mencoba
untuk terbuka. Aku mengizinkan nomor baruku dibagikan ke pihak departemen
program studi. Lalu, aku diajak bertemu dengan mereka. Percakapan berlangsung
dan aku bersyukur mereka datang ternyata membawa kabar baik. Mereka
mempersilakan keputusanku dan memahami kondisiku saat itu, hingga solusi yang
muncul adalah aku mengambil cuti untuk semester 4 ini.
Mungkin hanya beberapa orang saja yang tau kabar
bahwa aku cuti dari perkuliahan, selebihnya tidak. Mereka hanya tau bahwa
kondisiku baik-baik saja disana, berkuliah sebagaimana mestinya. Hanya
permohonan maaf saja yang bisa kuucap saat itu. Aku hanya tak ingin jadi
masalah besar. Aku hanya ingin cukup diriku saja yang tahu. Mereka yang tahu
pun hanyalah orang yang mau tidak mau harus ku beritahu demi kelanjutan
keputusan dan rencanaku. Sebab, mereka yang tahu adalah orang yang kemudian
membantuku mempersiapkan diri menuju tes perguruan tinggi.
Kekosongan waktu ku isi dengan belajar dan belajar.
Aku tak ingin gagal setelah sebelumnya di tahun 2015, aku sempat mencoba tes
masuk PTN namun gagal. Kali ini, di kesempatan terakhirku untuk ikut tes, aku
berusaha semaksimal mungkin. Ingatan ku tentang pelajaran SMA mungkin tak
sesegar mereka yang baru lulus SMA, tapi aku tak menyerah. Niatku untuk bisa
pindah sudah terlalu besar. Aku ikut bimbingan belajar bersama anak SMA
lainnya. Ikut program intensif. Sampai akhirnya, aku melewati tes tulis dengan
hasil yang sungguh melegakan. Aku lulus di jurusan yang sejak SMA sudah menjadi
salah satu favoritku, Psikologi. Kabar kelulusanku pun dengan cepat menyebar.
Berharap kabar ini bisa menutup kabar-kabar sebelumnya yang ingin kuakhiri.
Aku berharap di dunia baruku ini, kelak bisa
membantuku memulihkan kondisiku dari pengalaman sebelumnya. Yang lalu biarlah
berlalu. Namun, sekelam-kelamnya pengalaman lalu, aku selalu mengambil
pelajaran darinya. Usiaku bukan lagi usia remaja muda. Usia 20 tahun menurutku
sudah berada di ambang kedewasaan. Bukan lagi usia kalangan remaja labil. Bukan
lagi waktunya untuk bersantai ria, mondar-mandir jalan sana-sini, menghabiskan
tenaga, waktu dan juga uang untuk hal-hal yang tidak penting. Di usia ini
adalah waktu ku untuk lebih serius. Waktu 2 tahun sebelumnya yang telah hangus
bukanlah waktu yang singkat. Dan aku harus mengejar ketertinggalanku dengan
teman-teman seangkatan yang mungkin sudah mulai memasuki fase-fase sebelum
menuju tahap akhir perkuliahan. Sementara aku, harus kembali memulai dari awal.
Dari nol.
Bismillah, inilah keputusanku. So, the show must go on!
10
Oktober 2016
20.39 WIB
0 komentar:
Posting Komentar