Aku tengah berada di depan meja belajar. Membuka
kembali catatan Statistika ku, mencoba mengulang materi-materi lalu. Hingga
kurang lebih pukul setengah sembilan lewat, ku putuskan aku
tak masuk kuliah hari ini. Aku masih merasa lelah. Mulai dari tengkuk, punggung, pinggang, paha, betis, semuanya terasa pegal. Belum lagi rasa gatal yang tiba-tiba menyerang area tangan kananku, menimbulkan bintik-bintik merah. Ku ambil smartphone ku, lalu ku buka sebuah multichat line.
“Teman2 maaf
maaaaf bgt :(( Hari ini aku ga ke kampus, kurang enak badan soalnya, sejak
kemarin. Jadi ntar aku gabisa ikut ngumpul. Tapi aku bakalan nyari jurnal kok
di kosan. Sekali lagi maaf ya.”
Satu lagi urusanku
selesai, memberi kabar bahwa aku tak bisa berkumpul menyelesaikan tugas bersama.
Resmilah sudah, hari ini aku tak berangkat kuliah. Bersitirahat di kosan,
menghabiskan waktu untuk tidur. Menggunakan alasan sakit untuk menggunakan
jatah bolosku.
Ya, bolos kuliah. Dengan alasan sakit, katanya. Tapi
apakah benar aku sakit? “Ah, bener kok.
Aku emang lagi sakit.” Inilah salah satu karakterku yang selalu
mengidentifikasi diri sedang diserang penyakit apabila kondisi mental/psikis ku
sedang tidak stabil. Apapun itu, entah sedang sedih, rindu, galau, marah dan
apapun itu, ketika area psikis ku tengah terganggu, maka aku akan mendiagnosis
diriku “sedang sakit”.
Entah mengapa akhir-akhir ini aku serasa kosong. Ada
perasaan yang aku pun tak tahu bagaimana mendeskripsikannya karena memang
kosong. Rasanya semua berlalu begitu saja tanpa bisa ku cerna dulu. Seolah aku
mengerjakan tiap aktivitas secara tidak sadar. Membaca tapi tak ada yang
membekas di otak. Melamun tapi entah apa yang sedang dipikirkan. Tidur tapi
kesadaranku tak hilang, sekadar menutup mata, sementara suara-suara disekitarku
masih jelas terdengar. Sampai aku sendiri bertanya dengan rasa kosong yang ku
alami. Benarkan aku senang dengan kehidupanku saat ini? Apakah iya ku nyaman
dan menikmati aktivitasku saat ini? Aku masih mencari jawaban itu. Bahkan
sampai detik ini, saat aku menulis kalimat ini, aku masih mencari jawaban itu.
Apakah aku yang tengah duduk dikursi kaya dalam kamar berukuran kurang lebih
3x4 m dalm sebuah rumah berwarna pink dengan alamat kampung kuningan blok H
nomor 2 ini senang dengan kondisiku saat ini?
Aku selalu berkata saat ditanya tentang perasaanku
dengan keadaan yang sekarang dengan jawaban, “Ya, aku senang. Aku menikmati keadaanku yang sekarang.” Tapi, aku
sendiri pun tak yakin dengan jawaban itu. Jujur saja, sebelum rasa kosong ini
hadir, aku sempat merenungi keputusanku untuk kembali memulai kuliahku dari
nol. Saat aku telah melewati dua tahun kuliah di tempat yang sebelumnya, aku
memutuskan untuk pindah. Banyak yang menyayangkan sebenarnya, katanya tinggal
sedikit lagi aku sudah bisa bebas dengan lingkungan yang sejak awal masuk aku
selalu berkata tidak cocoklah, tidak nyamanlah dan masih banyak kata “tidak”
lainnya yang membuatku berpindah dari tempat itu ke tempatku yang sekarang.
Tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena semua keputusan memang berada di
tanganku. Aku pun sudah menimbang-nimbang hal itu, hingga kurang lebih di bulan
Februari kemarin, aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan memilih
mempersiapkan diriku menghadapi tes tulis masuk perguruan tinggi. Dan
beruntungnya, kepindahanku itu mendapat persetujuan dari-Nya.
Awal Agustus kemarin, perkuliahan baruku dimulai.
Saat kebanyakan orang melewati masa transisi dari SMA ke dunia perkuliahan, aku
pun melewati hal yang sama. Hanya saja bedanya, aku bukan berpindah dari masa
SMA ke masa kuliah, tetapi aku berpindah dari pengalaman kuliah masa laluku ke
keadaan perkuliahan yang sekarang. Dari jurusan Ilmu Komunikasi ke jurusan
Psikologi. Dari kebiasaan dulu yang kerjanya kuliah-pulang-mengurung diri ke siklus yang lebih aktif dengan
sedikit ditambah organisasi atau sering ikut berkumpul dengan teman. Dan
sekarang aku mempertanyakan masa transisi itu, sudahkah diriku ini melewati hal
tersebut dengan baik? Apakah kepindahanku ini membuat perubahan atau ada
perbedaan yang muncul dibandingkan pengalaman lalu? Berat rasanya, tapi mau
bagaimana lagi, jawabanku “sama saja”.
Hingga detik ini, aku merasa tak ada bedanya dengan
yang dulu. Entahlah kedepannya akan seperti apa, tapi aku tetap ber-positive
thinking bahwa belum selesai. Masa transisiku masih berproses dan jawabanku
tadi bukanlah jawaban akhir. Aku masih harus melewati serangkaian hal-hal baru
untuk bisa menemukan jawaban yang paling akhir dari sederetan pertanyaan itu.
Tapi kembali lagi, ketika ditanya seperti itu, jujur aku merasa sama saja.
10
Oktober 2016
16.41 WIB
0 komentar:
Posting Komentar