Pages

Senin, 10 Oktober 2016

Sama Saja




Aku tengah berada di depan meja belajar. Membuka kembali catatan Statistika ku, mencoba mengulang materi-materi lalu. Hingga kurang lebih pukul setengah sembilan lewat, ku putuskan aku

tak masuk kuliah hari ini. Aku masih merasa lelah. Mulai dari tengkuk, punggung, pinggang, paha, betis, semuanya terasa pegal. Belum lagi rasa gatal yang tiba-tiba menyerang area tangan kananku, menimbulkan bintik-bintik merah. Ku ambil smartphone ku, lalu ku buka sebuah multichat line.
“Teman2 maaf maaaaf bgt :(( Hari ini aku ga ke kampus, kurang enak badan soalnya, sejak kemarin. Jadi ntar aku gabisa ikut ngumpul. Tapi aku bakalan nyari jurnal kok di kosan. Sekali lagi maaf ya.”
Satu lagi urusanku selesai, memberi kabar bahwa aku tak bisa berkumpul menyelesaikan tugas bersama. Resmilah sudah, hari ini aku tak berangkat kuliah. Bersitirahat di kosan, menghabiskan waktu untuk tidur. Menggunakan alasan sakit untuk menggunakan jatah bolosku.
Ya, bolos kuliah. Dengan alasan sakit, katanya. Tapi apakah benar aku sakit? “Ah, bener kok. Aku emang lagi sakit.” Inilah salah satu karakterku yang selalu mengidentifikasi diri sedang diserang penyakit apabila kondisi mental/psikis ku sedang tidak stabil. Apapun itu, entah sedang sedih, rindu, galau, marah dan apapun itu, ketika area psikis ku tengah terganggu, maka aku akan mendiagnosis diriku “sedang sakit”.
Entah mengapa akhir-akhir ini aku serasa kosong. Ada perasaan yang aku pun tak tahu bagaimana mendeskripsikannya karena memang kosong. Rasanya semua berlalu begitu saja tanpa bisa ku cerna dulu. Seolah aku mengerjakan tiap aktivitas secara tidak sadar. Membaca tapi tak ada yang membekas di otak. Melamun tapi entah apa yang sedang dipikirkan. Tidur tapi kesadaranku tak hilang, sekadar menutup mata, sementara suara-suara disekitarku masih jelas terdengar. Sampai aku sendiri bertanya dengan rasa kosong yang ku alami. Benarkan aku senang dengan kehidupanku saat ini? Apakah iya ku nyaman dan menikmati aktivitasku saat ini? Aku masih mencari jawaban itu. Bahkan sampai detik ini, saat aku menulis kalimat ini, aku masih mencari jawaban itu. Apakah aku yang tengah duduk dikursi kaya dalam kamar berukuran kurang lebih 3x4 m dalm sebuah rumah berwarna pink dengan alamat kampung kuningan blok H nomor 2 ini senang dengan kondisiku saat ini?
Aku selalu berkata saat ditanya tentang perasaanku dengan keadaan yang sekarang dengan jawaban, “Ya, aku senang. Aku menikmati keadaanku yang sekarang.” Tapi, aku sendiri pun tak yakin dengan jawaban itu. Jujur saja, sebelum rasa kosong ini hadir, aku sempat merenungi keputusanku untuk kembali memulai kuliahku dari nol. Saat aku telah melewati dua tahun kuliah di tempat yang sebelumnya, aku memutuskan untuk pindah. Banyak yang menyayangkan sebenarnya, katanya tinggal sedikit lagi aku sudah bisa bebas dengan lingkungan yang sejak awal masuk aku selalu berkata tidak cocoklah, tidak nyamanlah dan masih banyak kata “tidak” lainnya yang membuatku berpindah dari tempat itu ke tempatku yang sekarang. Tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa karena semua keputusan memang berada di tanganku. Aku pun sudah menimbang-nimbang hal itu, hingga kurang lebih di bulan Februari kemarin, aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan memilih mempersiapkan diriku menghadapi tes tulis masuk perguruan tinggi. Dan beruntungnya, kepindahanku itu mendapat persetujuan dari-Nya.
Awal Agustus kemarin, perkuliahan baruku dimulai. Saat kebanyakan orang melewati masa transisi dari SMA ke dunia perkuliahan, aku pun melewati hal yang sama. Hanya saja bedanya, aku bukan berpindah dari masa SMA ke masa kuliah, tetapi aku berpindah dari pengalaman kuliah masa laluku ke keadaan perkuliahan yang sekarang. Dari jurusan Ilmu Komunikasi ke jurusan Psikologi. Dari kebiasaan dulu yang kerjanya kuliah-pulang-mengurung diri ke siklus yang lebih aktif dengan sedikit ditambah organisasi atau sering ikut berkumpul dengan teman. Dan sekarang aku mempertanyakan masa transisi itu, sudahkah diriku ini melewati hal tersebut dengan baik? Apakah kepindahanku ini membuat perubahan atau ada perbedaan yang muncul dibandingkan pengalaman lalu? Berat rasanya, tapi mau bagaimana lagi, jawabanku “sama saja”.
Hingga detik ini, aku merasa tak ada bedanya dengan yang dulu. Entahlah kedepannya akan seperti apa, tapi aku tetap ber-positive thinking bahwa belum selesai. Masa transisiku masih berproses dan jawabanku tadi bukanlah jawaban akhir. Aku masih harus melewati serangkaian hal-hal baru untuk bisa menemukan jawaban yang paling akhir dari sederetan pertanyaan itu. Tapi kembali lagi, ketika ditanya seperti itu, jujur aku merasa sama saja.

10 Oktober 2016
16.41 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

 

YURIZEN Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez