MATA DARI CHIKA
“Idiot !!!”. Kata itu selalu saja terngiang di telinga
Chika, gadis kecil yang sejak lahir
menderita cacat mental. Sejak kecil dia selalu mendapat ejekan dari teman atau anak-anak di lingkungan sekitarnya. Tak ada yang mau mendekatinya, mendekat saja tidak mau apalagi bermain dengan dirinya.
menderita cacat mental. Sejak kecil dia selalu mendapat ejekan dari teman atau anak-anak di lingkungan sekitarnya. Tak ada yang mau mendekatinya, mendekat saja tidak mau apalagi bermain dengan dirinya.
Orang
tua Chika kadang kasihan melihat Chika yang setiap hari selalu mendapat cemohan
dari orang di sekitarnya sehingga mereka menginginkan agar Chika dimasukkan ke
SLB (Sekolah Luar Biasa) saja agar Chika tidak selalu mendengarkan ejekan dari
teman sekolahnya. Tapi Chika bersikeras untuk masuk ke sekolah umum saja, dia
yakin bahwa ia mampu untuk sederajat dengan anak normal lainnya. Memang, Chika
adalah anak yang meskipun menderita cacat mental atau idiot tapi
kecerdasan otak maupun kemampuan rasionalnya cukup bagus. Hal
inilah yang selalu membuat Chika untuk tetap bersemangat melewati hidupnya
seperti anak normal lainnya.
*
* *
Pada awalnya, Chika sempat merasa
minder dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, berkat dukungan orang tua dan
semangat di dadanya akhirnya dia mampu melewati
itu semua. Saat di sekolah, kadang dia mendapat ejekan dari teman sekolahnya
tapi itu semua dia biarkan berlalu. Dia tak menghiraukannya, dia tetap saja
tersenyum dan tak pernah dendam kepada orang yang telah mengejeknya. Meskipun tak normal, Chika tidak pernah kesulitan
dalam menerima pelajaran. Bahkan daya tangkap Chika dalam menerima pelajaran
layaknya seseorang yang sehat fisik dan jasmani tanpa ada cacat sedikitpun. Waktu
demi waktu berlalu, Chika banyak mendapat prestasi di sekolah. Mulai dari Juara
Umum di sekolah, siswa teladan sekolah, sampai juara pada lomba-lomba akademik
di tingkat kabupaten, provinsi dan seterusnya.
Suatu
hari, ada seorang anak yang iri dengan prestasi yang didapatkan oleh Chika,
padahal anak ini hampir sama pintar dengan Chika, anak ini bernama Fretty.
Fretty cemburu dengan prestasi yang telah diraih Chika. Suatu waktu, ia
merencanakan hal buruk kepada Chika. Saat Chika
sedang menuruni tangga, tiba-tiba Fretty mendorongnya dari belakang. Chika pun
jatuh dan terguling-guling menuruni tangga. Kejadian ini begitu mengejutkan.
Chika dilarikan ke Rumah Sakit oleh para guru.
Mendengar kabar buruk ini, orang tua
Chika segera menuju ke RS. Sesampainya
disana, tampak beberapa guru sedang menunggu di luar ruang UGD. “Bu, bagaimana
keadaan anak saya ??? Apa yang telah terjadi ??? Mengapa bisa seperti ini ??”
ujar Ibu Chika sambil menangis. “Tenang Bu, tenanglah. Dokter sedang menanganinya di dalam. Yang
terpenting sekarang, Ibu berdoa agar Chika bisa selamat.” Kata Ibu guru sembari
menenangkan Ibu Chika. Selang beberapa waktu kemudian, Dokter pun keluar dari
ruang UGD. “Mana keluarganya ???” tanya sang dokter. “Saya !!! Kami berdua
orang tuanya” jawab Ibu Chika. “Kalau begitu ikut ke
ruangan saya”
“Dok, bagaimana keadaan anak saya ??
Apakah dia baik-baik saja
??” desak Ibu Chika penasaran. “Sabar Bu. Tenangkanlah dulu diri anda. Begini
bu, setelah kami melakukan pemeriksaan, keadaan ini menyebabkan cedera di kedua
kaki putri anda yang cukup parah, beruntung otaknya tidak mengalami cedera
apapun. Karena cedera di kakinya cukup parah maka mau tidak mau kedua kakinya
harus di amputasi”. “Apa ??? Dok, tidak adakah
alternatif atau cara yang lain ?? Dok, tolonglah anak saya, dok”. “Tidak bisa
bu, inilah satu-satunya jalan yang dapat di tempuh tidak ada cara yang lain”. “Sudahlah bu, ikhlaskan saja, kita serahkan semua ini
pada yang di atas. Mungkin ada jalan lain yang akan ditunjukkan kepada kita”
ujar Ayah Chika menenangkan istrinya.
Operasi
pun dilakukan, Chika yang telah menderita cacat fisik, kini harus kehilangan
kedua kakinya lagi. Ketika operasi selesai, beberapa jam kemudian, Chika
akhirnya sadar. Ketika ingin bergerak, dia merasa aneh dengan kakinya, ketika
dilihat…………
“Hah ??? Ada apa dengan kakiku suster ???”
“Sabar yaa de’. Kaki mu telah di amputasi akibat
cedera oleh benturan di tulang pada kakimu sehingga tim dokter harus
mengamputasi kedua kakimu”
“Apakah kedua orang tuaku mengetahui hal ini, sus ???”
“Oh, tentu saja. Kami tidak bisa melakukan operasi
bedah tanpa persetujuan keluarga atau orang tua. Baiklah tunggu sebentar suster
akan memanggil orang tuamu.”
“Terima kasih, sus !”
Sang
suster pun keluar kamar dan memanggil orang tua Chika yang sejak tadi sudah
menunggu dengan perasaan cemas di luar.
“Permisi, anak Bapak dan Ibu sudah sadar dan ingin
bertemu dengan anda berdua”
“Alhamdulillah, terima kasih atas infonya yaa, sus”
“Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu yaa, Bu,
Pak.”
Ketika memasuki kamar, tampaklah seorang gadis dengan
semangat yang berapi-api walaupun dalam keadaan tidak normal. Air mata sang Ibu
pun meleleh tatkala melihat keadaan sang anak yang begitu malang.
“Anakku Chika !!! Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak bisa
menjaga mu baik-baik”
“Sudahlah, bu. Ini semua adalah takdir Tuhan. Bisa
jadi suatu saat nanti Chika bisa mendapatkan sesuatu yang lebih berharga”
Itulah Chika, anak yang begitu sabar. Meskipun cobaan
selalu menghadang tapi ia selalu menghadapinya dengan senyuman. Tak sedikitpun
ia mengeluh ketika sedang diberi cobaan.
Beberapa
hari kemudian pasca operasi, Chika akhirnya diperbolehkan pulang. Ia pun
kembali bersekolah. Hari pertama sekolahnya, ia disambut oleh para guru dan
sahabatnya. Sementara Fretty melihat dari lantai atas sambil tersenyum melihat
keadaan Chika yang sudah idiot kini harus kehilangan kedua kakinya.
Minggu
pertama sekolah, semuanya baik-baik saja. Tapi pada minggu kedua, Fretty dan
teman-temannya mulai mengganggu Chika. Chika diejek habis-habisan dan dijatuhkan
dari kursi roda. Chika sempat tak tahan dengan keadaan ini tapi dia mencoba
untuk tetap sabar, dia percaya bahwa Allah pasti selalu melindunginya.
Hari
demi hari berlalu, Fretty semakin ganas. Suatu waktu, Fretty mendorong Chika
dari tangga. Seketika Chika terguling-guling di tangga sampai akhirnya dia
tergeletak di lantai bawah. Chika langsung dilarikan ke rumah sakit. Peristiwa
tersebut mengakibatkan pendarahan otak di kepala Chika. Chika melewati masa
kritis tapi sayang
dia harus berpulang lebih dulu. Isak tangis pun bergumam di Ruang Gawat
Darurat. Mendengar hal itu, Fretty tersenyum puas. Kini, Chika tidak akan
mengganggu kehidupan Fretty lagi. Saking girangnya, Fretty tak menyadari bahwa
dirinya berada di dekat tangga. Seketika, Fretty pun jatuh dari tangga layaknya
Chika. Terguling-guling, terpelanting sama seperti yang dirasakan Chika. Akibat
dari itu, saraf yang berhubungan dengan mata Fretty terputus yang mengakibatkan
dirinya buta.
Teriakan histeris Fretty menggema di
kupingnya. Tapi Tuhan masih sayang sama Fretty. Ada donor mata untuknya.
Operasi berhasil dilakukan. Ketika pulih, Fretty bertanya-tanya, siapakah yang
telah mendonorkan mata untuknya ???. betapa terkejutnya Fretty ketika tahu
bahwa mata ini adalah mata Chika. Tangis penyesalan tak terbendung lagi. Kini,
Fretty harus menerima kenyataan bahwa dirinya tak akan pernah terlepas dari
Chika. Di setiap pandangannya, sosok Chika selalu nampak menemani hidup Fretty.
T.A.M.A.T
By : Yuri
0 komentar:
Posting Komentar