Pages

Jumat, 28 Juni 2013

MATA DARI CHIKA



MATA DARI CHIKA
            “Idiot !!!”. Kata itu selalu saja terngiang di telinga Chika, gadis kecil yang sejak lahir
menderita cacat mental. Sejak kecil dia selalu mendapat ejekan dari teman atau anak-anak di lingkungan sekitarnya. Tak ada yang mau mendekatinya, mendekat saja tidak mau apalagi bermain dengan dirinya.
            Orang tua Chika kadang kasihan melihat Chika yang setiap hari selalu mendapat cemohan dari orang di sekitarnya sehingga mereka menginginkan agar Chika dimasukkan ke SLB (Sekolah Luar Biasa) saja agar Chika tidak selalu mendengarkan ejekan dari teman sekolahnya. Tapi Chika bersikeras untuk masuk ke sekolah umum saja, dia yakin bahwa ia mampu untuk sederajat dengan anak normal lainnya. Memang, Chika adalah anak yang meskipun menderita cacat mental atau idiot tapi kecerdasan otak maupun kemampuan rasionalnya cukup bagus. Hal inilah yang selalu membuat Chika untuk tetap bersemangat melewati hidupnya seperti anak normal lainnya.
* * *
            Pada awalnya, Chika sempat merasa minder dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, berkat dukungan orang tua dan semangat di dadanya akhirnya dia mampu melewati itu semua. Saat di sekolah, kadang dia mendapat ejekan dari teman sekolahnya tapi itu semua dia biarkan berlalu. Dia tak menghiraukannya, dia tetap saja tersenyum dan tak pernah dendam kepada orang yang telah mengejeknya. Meskipun tak normal, Chika tidak pernah kesulitan dalam menerima pelajaran. Bahkan daya tangkap Chika dalam menerima pelajaran layaknya seseorang yang sehat fisik dan jasmani tanpa ada cacat sedikitpun. Waktu demi waktu berlalu, Chika banyak mendapat prestasi di sekolah. Mulai dari Juara Umum di sekolah, siswa teladan sekolah, sampai juara pada lomba-lomba akademik di tingkat kabupaten, provinsi dan seterusnya.
            Suatu hari, ada seorang anak yang iri dengan prestasi yang didapatkan oleh Chika, padahal anak ini hampir sama pintar dengan Chika, anak ini bernama Fretty. Fretty cemburu dengan prestasi yang telah diraih Chika. Suatu waktu, ia merencanakan hal buruk kepada Chika. Saat Chika sedang menuruni tangga, tiba-tiba Fretty mendorongnya dari belakang. Chika pun jatuh dan terguling-guling menuruni tangga. Kejadian ini begitu mengejutkan. Chika dilarikan ke Rumah Sakit oleh para guru.
            Mendengar kabar buruk ini, orang tua Chika segera menuju ke RS. Sesampainya disana, tampak beberapa guru sedang menunggu di luar ruang UGD. “Bu, bagaimana keadaan anak saya ??? Apa yang telah terjadi ??? Mengapa bisa seperti ini ??” ujar Ibu Chika sambil menangis. “Tenang Bu, tenanglah. Dokter sedang menanganinya di dalam. Yang terpenting sekarang, Ibu berdoa agar Chika bisa selamat.” Kata Ibu guru sembari menenangkan Ibu Chika. Selang beberapa waktu kemudian, Dokter pun keluar dari ruang UGD. “Mana keluarganya ???” tanya sang dokter. “Saya !!! Kami berdua orang tuanya” jawab Ibu Chika. “Kalau begitu ikut ke ruangan saya”
            “Dok, bagaimana keadaan anak saya ?? Apakah dia baik-baik saja ??” desak Ibu Chika penasaran. “Sabar Bu. Tenangkanlah dulu diri anda. Begini bu, setelah kami melakukan pemeriksaan, keadaan ini menyebabkan cedera di kedua kaki putri anda yang cukup parah, beruntung otaknya tidak mengalami cedera apapun. Karena cedera di kakinya cukup parah maka mau tidak mau kedua kakinya harus di amputasi”. “Apa ??? Dok, tidak adakah alternatif atau cara yang lain ?? Dok, tolonglah anak saya, dok”. “Tidak bisa bu, inilah satu-satunya jalan yang dapat di tempuh tidak ada cara yang lain”. “Sudahlah bu, ikhlaskan saja, kita serahkan semua ini pada yang di atas. Mungkin ada jalan lain yang akan ditunjukkan kepada kita” ujar Ayah Chika menenangkan istrinya.
            Operasi pun dilakukan, Chika yang telah menderita cacat fisik, kini harus kehilangan kedua kakinya lagi. Ketika operasi selesai, beberapa jam kemudian, Chika akhirnya sadar. Ketika ingin bergerak, dia merasa aneh dengan kakinya, ketika dilihat…………
“Hah ??? Ada apa dengan kakiku suster ???”
“Sabar yaa de’. Kaki mu telah di amputasi akibat cedera oleh benturan di tulang pada kakimu sehingga tim dokter harus mengamputasi kedua kakimu”
“Apakah kedua orang tuaku mengetahui hal ini, sus ???”
“Oh, tentu saja. Kami tidak bisa melakukan operasi bedah tanpa persetujuan keluarga atau orang tua. Baiklah tunggu sebentar suster akan memanggil orang tuamu.”
“Terima kasih, sus !”
            Sang suster pun keluar kamar dan memanggil orang tua Chika yang sejak tadi sudah menunggu dengan perasaan cemas di luar.
“Permisi, anak Bapak dan Ibu sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda berdua”
“Alhamdulillah, terima kasih atas infonya yaa, sus”
“Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu yaa, Bu, Pak.”
Ketika memasuki kamar, tampaklah seorang gadis dengan semangat yang berapi-api walaupun dalam keadaan tidak normal. Air mata sang Ibu pun meleleh tatkala melihat keadaan sang anak yang begitu malang.
“Anakku Chika !!! Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak bisa menjaga mu baik-baik”
“Sudahlah, bu. Ini semua adalah takdir Tuhan. Bisa jadi suatu saat nanti Chika bisa mendapatkan sesuatu yang lebih berharga”
Itulah Chika, anak yang begitu sabar. Meskipun cobaan selalu menghadang tapi ia selalu menghadapinya dengan senyuman. Tak sedikitpun ia mengeluh ketika sedang diberi cobaan.
            Beberapa hari kemudian pasca operasi, Chika akhirnya diperbolehkan pulang. Ia pun kembali bersekolah. Hari pertama sekolahnya, ia disambut oleh para guru dan sahabatnya. Sementara Fretty melihat dari lantai atas sambil tersenyum melihat keadaan Chika yang sudah idiot kini harus kehilangan kedua kakinya.
            Minggu pertama sekolah, semuanya baik-baik saja. Tapi pada minggu kedua, Fretty dan teman-temannya mulai mengganggu Chika. Chika diejek habis-habisan dan dijatuhkan dari kursi roda. Chika sempat tak tahan dengan keadaan ini tapi dia mencoba untuk tetap sabar, dia percaya bahwa Allah pasti selalu melindunginya.
            Hari demi hari berlalu, Fretty semakin ganas. Suatu waktu, Fretty mendorong Chika dari tangga. Seketika Chika terguling-guling di tangga sampai akhirnya dia tergeletak di lantai bawah. Chika langsung dilarikan ke rumah sakit. Peristiwa tersebut mengakibatkan pendarahan otak di kepala Chika. Chika melewati masa kritis tapi sayang dia harus berpulang lebih dulu. Isak tangis pun bergumam di Ruang Gawat Darurat. Mendengar hal itu, Fretty tersenyum puas. Kini, Chika tidak akan mengganggu kehidupan Fretty lagi. Saking girangnya, Fretty tak menyadari bahwa dirinya berada di dekat tangga. Seketika, Fretty pun jatuh dari tangga layaknya Chika. Terguling-guling, terpelanting sama seperti yang dirasakan Chika. Akibat dari itu, saraf yang berhubungan dengan mata Fretty terputus yang mengakibatkan dirinya buta.
            Teriakan histeris Fretty menggema di kupingnya. Tapi Tuhan masih sayang sama Fretty. Ada donor mata untuknya. Operasi berhasil dilakukan. Ketika pulih, Fretty bertanya-tanya, siapakah yang telah mendonorkan mata untuknya ???. betapa terkejutnya Fretty ketika tahu bahwa mata ini adalah mata Chika. Tangis penyesalan tak terbendung lagi. Kini, Fretty harus menerima kenyataan bahwa dirinya tak akan pernah terlepas dari Chika. Di setiap pandangannya, sosok Chika selalu nampak menemani hidup Fretty.
T.A.M.A.T

By : Yuri


           

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

 

YURIZEN Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez